Postingan

MBG, Stunting, dan Anak-Anak yang TerlupakanSebuah Catatan Kritis dari Sudut Pandang Warga Negara

Gambar
MBG, Stunting, dan Anak-Anak yang Terlupakan Sebuah Catatan Kritis dari Sudut Pandang Warga Negara Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Pertanyaan 1: Apakah saya menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG)? Tidak. Saya justru sepakat bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang belajar dalam keadaan lapar. Makan bergizi adalah hak dasar setiap anak dan negara memang memiliki kewajiban untuk memenuhinya. Namun sebagai warga negara, saya juga memiliki hak untuk bertanya: Apakah anggaran yang sangat besar tersebut sudah diarahkan kepada sasaran yang paling membutuhkan? Karena program yang baik belum tentu menghasilkan kebijakan yang paling efektif. --- Pertanyaan 2: Bukankah MBG dibuat untuk mengatasi stunting? Di sinilah letak persoalannya. Stunting bukan sekadar anak yang lapar ketika sekolah. Stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang umumnya terjadi sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Artinya, kelompok paling menentukan dalam pencegahan stunt...

KETIKA UTANG MENJADI TEROR: SAMPAI DI MANA HAK MENAGIH PINJOL?

Gambar
KETIKA UTANG MENJADI TEROR: SAMPAI DI MANA HAK MENAGIH PINJOL? Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Di tengah maraknya pinjaman online, muncul satu pertanyaan mendasar yang sering terlupakan: Apakah kreditur berhak menagih utang kepada keluarga, teman, atasan, rekan kerja, bahkan tetangga debitur? Secara hukum, jawabannya sederhana: tidak. Utang adalah hubungan hukum antara dua pihak, yaitu debitur dan kreditur. Kewajiban membayar utang melekat pada pihak yang meminjam, bukan pada keluarga, teman kantor, atau kontak lain yang kebetulan ada di telepon debitur. Penyebaran informasi utang kepada pihak yang tidak berkepentingan berpotensi menimbulkan persoalan hukum baru terkait perlindungan data pribadi dan hak privasi. MASALAHNYA BUKAN MENAGIH, TAPI CARA MENAGIH Sering kali masyarakat salah memahami isu ini. Tidak ada yang melarang perusahaan pembiayaan menagih utang. Bahkan hak menagih adalah konsekuensi logis dari perjanjian pinjaman. Yang menjadi persoalan adalah ketika prose...

Ketika Kontrak Berakhir di Pengadilan: Apakah Litigasi Selalu Menjadi Jalan Terbaik?

Gambar
Ketika Kontrak Berakhir di Pengadilan: Apakah Litigasi Selalu Menjadi Jalan Terbaik? Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Sebagian besar kontrak lahir dari harapan yang baik. Seorang pembeli berharap memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan. Seorang kreditur berharap menerima kembali dana yang disalurkan. Seorang debitur berharap mampu memenuhi seluruh kewajibannya. Tidak ada pihak yang menandatangani kontrak dengan tujuan untuk bersengketa. Namun dalam kenyataannya, tidak semua hubungan kontraktual berjalan sesuai rencana. Ketika komunikasi mulai terputus, kepercayaan mulai menurun, dan penyelesaian secara musyawarah tidak lagi menemukan titik temu, maka sengketa sering kali berakhir di satu tempat: pengadilan. Pertanyaannya, apakah litigasi selalu menjadi jalan terbaik? Pengadilan Sebagai Penjaga Kepastian Hukum Dalam negara hukum, pengadilan memiliki fungsi yang sangat penting. Pengadilan memberikan ruang bagi para pihak untuk memperoleh kepastian hukum melalui proses ya...

Restrukturisasi Kredit: Hak, Kesempatan, atau Sekadar Penundaan Masalah?

Gambar
Restrukturisasi Kredit: Hak, Kesempatan, atau Sekadar Penundaan Masalah? Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Ketika seorang debitur mulai mengalami kesulitan membayar kewajibannya, satu kata yang sering muncul dalam berbagai diskusi adalah restrukturisasi. Bagi sebagian orang, restrukturisasi dianggap sebagai jalan keluar. Bagi sebagian lainnya, restrukturisasi dipandang hanya sebagai cara menunda masalah yang pada akhirnya tetap harus dihadapi. Lalu sebenarnya apa makna restrukturisasi dalam hubungan antara kreditur dan debitur? Apakah restrukturisasi merupakan hak yang harus diberikan kepada debitur? Sebuah kesempatan yang dapat dipertimbangkan? Ataukah sekadar penundaan atas persoalan yang lebih besar? Ketika Masalah Keuangan Tidak Selalu Berarti Niat Buruk Dalam banyak kasus, kesulitan pembayaran tidak selalu lahir dari ketidakjujuran. Seseorang dapat kehilangan pekerjaan. Pendapatan usaha dapat menurun. Kondisi ekonomi dapat berubah secara drastis. Biaya hidup dapat meni...

Fidusia: Mengapa Kendaraan yang Sudah Bertahun-Tahun Dicicil Masih Bisa Ditarik?

Gambar
Fidusia: Mengapa Kendaraan yang Sudah Bertahun-Tahun Dicicil Masih Bisa Ditarik? Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam sengketa pembiayaan kendaraan adalah: "Mengapa kendaraan yang sudah saya cicil selama bertahun-tahun masih bisa ditarik?" Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat konsep hukum yang sering kali tidak dipahami oleh masyarakat, yaitu jaminan fidusia. Banyak debitur memahami bahwa mereka membeli kendaraan melalui pembiayaan. Akan tetapi, tidak semua memahami bagaimana status hukum kendaraan tersebut selama masa kredit berlangsung. Akibatnya, ketika terjadi sengketa atau penarikan kendaraan, yang muncul bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga rasa ketidakadilan. Ketika Kepemilikan dan Jaminan Berjalan Bersamaan Dalam transaksi pembiayaan kendaraan, debitur umumnya menerima kendaraan dan menggunakannya sejak awal. Secara fisik kendaraan berada di tangan debitur. Debitur membay...

Mengapa Banyak Orang Menandatangani Kontrak yang Tidak Mereka Pahami?

Gambar
Mengapa Banyak Orang Menandatangani Kontrak yang Tidak Mereka Pahami? Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Hampir setiap orang pernah menandatangani suatu perjanjian. Perjanjian kredit kendaraan. Perjanjian pembiayaan rumah. Perjanjian penggunaan aplikasi digital. Perjanjian kerja. Perjanjian investasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menyetujui berbagai bentuk kontrak tanpa menyadari sepenuhnya konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Ironisnya, banyak sengketa hukum justru lahir dari kontrak yang telah ditandatangani secara sukarela. Pertanyaannya bukan lagi apakah kontrak tersebut sah, melainkan mengapa begitu banyak orang bersedia menandatangani kontrak yang sebenarnya tidak mereka pahami. Kontrak Dibaca Terakhir, Keuntungan Dilihat Pertama Salah satu penyebab paling umum adalah kecenderungan manusia untuk fokus pada manfaat yang akan diperoleh. Ketika seseorang ingin memiliki kendaraan, perhatian utamanya sering tertuju pada besaran cicilan. Ketika ses...

Keadilan Kontraktual dalam Hubungan Kreditur dan Debitur: Mencari Titik Temu antara Hak, Kewajiban, dan Martabat Manusia

Gambar
Keadilan Kontraktual dalam Hubungan Kreditur dan Debitur: Mencari Titik Temu antara Hak, Kewajiban, dan Martabat Manusia Oleh: Achmad Boys Awaluddin Rifai Dalam setiap hubungan pembiayaan, terdapat sebuah kontrak yang menjadi fondasi lahirnya hak dan kewajiban para pihak. Kontrak tersebut dapat berbentuk perjanjian kredit bank, pembiayaan kendaraan, pembiayaan multiguna, maupun berbagai bentuk akad lainnya yang berkembang dalam praktik ekonomi modern. Secara teoritis, kontrak dibuat untuk menciptakan kepastian hukum. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kontrak yang justru menjadi sumber sengketa ketika salah satu pihak mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya. Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tujuan kontrak semata-mata untuk memastikan pembayaran, ataukah untuk menciptakan hubungan hukum yang adil bagi seluruh pihak yang terlibat? Kontrak Bukan Sekadar Alat Menagih Banyak orang memandang kontrak hanya sebagai alat bagi kreditur untuk menagih kewaj...